Beranda > Pendidikan > Disukai atau Tidak Disukai

Disukai atau Tidak Disukai

Mari kita mulai dengan pertanyaan: Jika seorang guru tidak disukai oleh murid – muridnya, maka, akankah efektif pembelajaran di kelas? Saya rasa tidak. Bagaimana seorang murid bisa menyukai suatu pelajaran jika ia tidak suka dengan guru yang mengajarkannya?

Karena itu, disukai oleh murid – murid kita adalah suatu hal yang harus bisa diwujudkan oleh guru. Guru yang disukai murid akan lebih bisa mempengaruhi mereka menjadi lebih baik. Guru yang disukai oleh murid – muridnya mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menginspirasi. Namun, dengan cara bagaimana agar murid – murid kita bisa menyukai kita?

Ada sebuah kisah menarik dari seorang guru kenalan saya. Ibu guru satu ini luar biasa menurut saya. Orangnya ramah tapi bisa berubah menjadi sangat galak jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hatinya. Ia tipe orang yang sangat disiplin dan sangat menghargai waktu. Dedikasinya untuk mendidik tidak perlu diragukan lagi.

Ia termasuk dalam jajaran orang yang berpendirian teguh dan keras hati. Orang yang sangat yakin dengan pendiriannya dan mau bekerja keras untuk memperjuangkan pendiriannya itu. Inilah salah satu contoh dari betapa hebatnya ia:

Suatu kali ia diminta untuk mengajar suatu kelas yang selama beberapa lama diajar oleh guru lain. Guru sebelumnya adalah tipe guru penyabar dan sekaligus sangat toleran dengan segala tindak tanduk siswa. Ketika gurunya diganti, apalagi diganti dengan guru yang galak tadi, sontak anak – anak itu menunjukkan ketidak sukaannya.

Tapi apa boleh buat, tidak ada pilihan lain. Kini, di kelas itu, sering terdengar guru yang marah – marah. Ia menghukum siswa yang tidak mengerjakan PR. Ia mengeluarkan siswa yang kurang ajar. Ketidak sukaan siswa menjadi – jadi.

Tetapi di saat yang sama, siswa – siswa itu menyadari bahwa pembelajaran yang dilakukan oleh guru itu sangat baik. Pembelajaran yang dilakukannya membuat mereka memahami konsep – konsep pelajaran dengan lebih baik.

Di satu sisi, sang guru dibenci karena “kekakuannya”, di sisi lain ia disukai Karena mampu membuat anak  anak mengerti pelajaran yang diakui kesulitannya. Dalam beberapa lama, siswa – siswa kelas itu, menyukainya.

Suatu kali, saya sempat mengobrol dengan guru itu. Lalu saya menanyakan perihal itu kepadanya. Jawabnya: “Kita harus disukai oleh siswa – siswa kita. Tapi mereka harus menyukai kita berdasarkan prinsip – prinsip yang kita yakini benar. Bukan dengan menuruti apa keinginan mereka. Menurut saya sih hal – hal seperti ini yang disebut dengan pendidikan.”

Saya tahu sekarang.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: