Beranda > Pendidikan > Kita, Kisah Al, dan Ronggo Warsito

Kita, Kisah Al, dan Ronggo Warsito

ILUSTRASI: Dilihat dari mutu pendidikan, Indonesia kalah jauh dibandingkan negara lain.

Oleh Hendrawan Nasution

Belum lagi hilang gaung pendidikan karakter yang dicanangkan sebagai tema utama Hari Pendidikan Nasional oleh Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), dunia pendidikan kita sudah disodorkan fenomena buruk, yaitu berita-berita yang mengungkapkan kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN).

Di Jakarta, ketidakjujuran penyelenggaraan UN terungkap dengan adanya pengaduan seorang bocah yang tidak tahan diintimidasi untuk secara sengaja melakukan perbuatan tercela ini. Mirisnya, kecurangan yang sama juga terungkap di Surabaya, tepatnya di SDN Gadel 2, Surabaya, Jawa Timur.

Di sekolah ini, siswa pintar yang bernama Alif (Al) lagi-lagi dipaksa untuk membagikan jawaban kepada teman-temannya. Perbuatan memalukan ini dilakukan secara sistematis dan telah melalui gradi resik contek-menyontek. Dan, hal terparah yang membuat kita “harus” mengelus dada adalah klimaksnya, yaitu pengusiran keluarga dan orang tua Al dari desa tempat mereka tinggal.

Inikah hasil dan harga sebuah kejujuran? Inikah yang dinamakan pendidikan karakter bangsa ini?

Kalau jawabannya, “ya”, maka terawang Raden Ngabehi Rangga Warsita (baca: Ronggo Warsito) dalam Serat Kalatida, yang mengatakan bahwa zaman sekarang adalah zaman edan (gila) adalah benar adanya. Mereka yang tidak ikut edan tidak akan kebagian. Artinya, mereka yang “lurus” harus disingkirkan atau segera menyingkir.

Berbagai pihak memberikan tanggapan kasus kecurangan massal tersebut. Beberapa mengatakan, bahwa di dunia akademis, contek-menyontek adalah perbuatan paling tercela yang tak termaafkan. Oleh karena itu, para pelaku perbuatan tersebut harus mendapat sanksi.

Di sisi lain, tidak sedikit pula yang menerimanya sebagai suatu kenyataan yang ada di republik ini. Tak sedikit pula, ada yang mengendap-endap mencari kesempatan untuk bersiap membuat momentum ini sebagai proyek yang menghasilkan uang.

Pendidikan Karakter dan berkarakter

Fenomena di atas hanyalah sebagian kecil dari puncak gunung es yang tampak jelas di permukaan. Kenyataannya, masalah yang dihadapi bangsa ini adalah jauh lebih besar.

Harus diakui, bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) memang telah mengupayakan pendidikan karakter sebagai bagian dari kurikulum pendidikan nasional. Sejak bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi, pendidikan karakter yang notabene adalah pendidikan berbangsa dan bernegara tidak pernah lepas dari kurikulum.

Di zaman orde lama (orla) pendidikan karakter ditularkan melalui indoktrinasi politik yang pada masa orde baru (orba) diubah menjadi Pancasila dan Pendidikan P-4 dan kemudian di era reformasi saat ini diubah lagi menjadi PKn (Pendidikan Kewarganegaraan). Semua itu merupakan bukti, bahwa pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama telah berusaha untuk memberikan pendidikan karakter.

Dalam kurikulum pendidikan karakter di tingkat SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi, PKn mengajarkan nilai-nilai akhlak sebagai manusia sosial. Siswa ditanamkan untuk tidak berbohong, menyontek, mengambil barang yang bukan hak miliknya dan lain sebagainya. Dalam hal etika berbangsa dan bernegara, kurikulum juga mengajarkan bagaimana keharusan siswa menghargai pendapat orang lain, patuh terhadap hukum, dan tidak melakukan penindasan terhadap kelompok minoritas. Tapi, di sisi lain juga harus diakui bahwa kurikulum ini tidak berkarakter.

Kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini semakin jauh panggang dari api. Ketika para founding father mengamanahkan ke-Tuhan-an, kekerasan terhadap pemeluk agama lain semakin sering terjadi, dan pembiaran penindasan terhadap hak-hak kemanusiaan sudah menjadi hal umum. Pertikaian kelompok demi pertikaian kelompok menyimpan dendam yang semakin menjauhkan semangat persatuan nasional. Demikian pula dominasi mayoritas yang semakin menancapkan kukunya dan sejalan dengan suburnya korupsi di berbagai bidang yang merupakan diskursus semangat kerakyatan dan keadilan sosial.

Apa jadinya semua ini? Percuma menanyakan Kemdiknas dan Kemenag alasan para siswa menghalalkan contek-menyontek dan sogok-menyogok. Mereka sama bingungnya ketika dihadapi pada realita, bahwa tempat mereka bekerja menyandang gelar sebagai kementerian-kementerian paling korup di bumi pertiwi ini.

Berbagai kebohongan dan manipulasi terjadi di jajaran kementerian tersebut. Sebagai lembaga yang merumuskan kurikulum, mereka yang berada dalam lembaga ini seharusnya mengetahui serta memahami isi dari pendidikan karakter itu sendiri dan bersikap paling gigih dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan. Perilaku-perilaku demikian itulah yang menyebabkan kegagalam kurikulum ini. Pendidikan karakter yang tidak berkarakter.

Pembentukan Karakter

Ada tiga lembaga paling bertanggung jawab terhadap gagal dan berhasilnya pendidikan karakter nasional, yaitu lembaga keluarga, pendidikan dan lingkungan (baca: masyarakat). Keluarga sebagai institusi sosial terkecil merupakan tempat awal nilai-nilai putih seorang manusia digoreskan.

Hampir 90 % dari masa golden age yang merupakan masa penting pertumbuhan seorang anak dihabiskan bersama keluarga. Saat ini, institusi keluarga mengambil peranan terbesar dalam peletakan dan pembangunan fondasi nilai-nilai luhur, sikap, kepribadian, watak dan karakter.

Semua nilai-nilai yang diperoleh anak-anak itu merupakan hasil dari komunikasi internal yang terjadi di institusi tersebut, baik verbal maupun non-verbal. Nasihat, larangan, kewajiban dan anjuran orang tua merupakan komunikasi verbal yang perlu dan sangat perlu dilakukan. Ketidakpedulian orang tua terhadap transfer nilai-nilai benar salah dan baik buruk akan menyebabkan seorang anak mempunyai hati yang tumpul terhadap eksistensi individu maupun sosial di luar dirinya.

Transfer nilai tidak cukup hanya melalui komunikasi verbal. Pola perilaku orang tua dan anggota keluarga inti juga menjadi faktor utama pembentukan karakter anak. Berawal dari hal-hal kecil, seperti membuang sampah di tempat yang benar, sikap saling menghormati sesama dan menghargai pendapat anggota keluarga lain merupakan pelajaran yang membekas di hati seorang anak dan kerap untuk ditiru. Sebaliknya, sikap inkonsisten, plin-plan, dan kemunafikan salah seorang atau anggota keluarga lainnya akan segera dapat terekam dengan mudah dan ditiru oleh seorang anak.

Lembaga kedua yang bertanggung jawab adalah lembaga pendidikan, sebagai lembaga formal baik sekolah maupun madrasah yang secara resmi melakukan transfer ilmu pengetahuan yang di dalamnya termasuk sistem nilai, etika dan moral. Dalam institusi inilah interaksi sosial seorang anak terjadi.

Tidak berbeda jauh dengan institusi keluarga, dalam institusi pendidikan ini seorang anak secara sistematis diajar berbagai ilmu pengetahuan, baik yang bersifat know what, know why dan know how.

Di lembaga pendidikan formal, peserta didik diajarkan bersikap jujur, saling menghormati/menghargai orang lain, termasuk hak-haknya, tidak serakah, empati sosial dan sebagainya. Kendati demikian, sekali lagi, transfer ilmu pengetahuan di atas masih sangat normatif sekali.

Memang, semua hal di atas tidak berarti apapun selain sebagai basic tools yang pemanfaatannya tergantung dari sistem nilai yang dimiliki user. Bila si user mempunyai sikap dan karakter yang baik, maka pemanfaatannya akan mengarah pada tujuan positif dan sebaliknya.

Tidak dapat kita bayangkan, betapa bingungnya seorang peserta didik ketika diharuskan untuk memberikan contekan pada teman-temannya oleh seorang yang seharusnya mengajarkan kejujuran dan proudness atas originalitas. Betapa confusing-nya peserta didik kala mengetahui adanya miss-management di tempat yang seharusnya dikelola oleh para pendidik profesional.

Profesional di sini tidak hanya berarti pendidik yang memiliki absen jari, sesuai aturan, tetapi juga mempunyai integritas. Lagi-lagi, sistem nilai, etika, moral dan ilmu pengetahuan lainnya yang diajarkan di lembaga pendidikan harus diujicobakan dengan realitas lingkungan tempat peserta didik berada.

Betapapun baik dan konsistennya pengetahuan tersebut diajarkan pada peserta didik, tidak akan merubah apapun tanpa suri tauladan dari lingkungan pendidikan itu sendiri. Tidak salah pepatah mengatakan “guru kencing berdiri murid kencing berlari”.

Lembaga terakhir yang bertanggung jawab terhadap berhasil atau gagalnya pendidikan karakter nasional yang berkarakter adalah lembaga lingkungan. Di dalam lingkungan inilah semua nilai, sikap, watak dan karakter serta ilmu pengetahuan yang dipelajari secara normatif di lembaga keluarga dan pendidikan saling berinteraksi dan saling pengaruh mempengaruhi. Etika, moralitas dan karakter yang baik dari seorang anak akan tertutup oleh debu maksiat dan kemunafikan dalam tatanan masyarakat yang terjungkilbalik dan sebaliknya.

Apa yang dikatakan seorang anak ketika melihat polisi yang melakukan pembiaran terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh invividu atau kelompok atas yang lainnya? Kemelut batin apa yang dirasakan seorang anak ketika ada individu dan sekelompok orang tega melakukan pembunuhan dengan mengatasnamakan agama? Keresahan apa yang dirasakan oleh seorang anak ketika melihat wakil-wakil rakyatnya ramai-ramai masuk penjara karena ketahuan mencuri uang rakyat?

Semua sikap inkonsistensi, plin-plan dan kemunafikan akan menyebabkan kontraproduktif pada pendidikan karakter nasional. Sayangnya, lembaga lingkungan ini merupakan cermin dari dua lembaga sebelumnya. Apabila lembaga keluarga dan lembaga pendidikan berhasil memproduksi anak-anak bangsa dan peserta didik yang baik dan berkarakter, maka lembaga lingkungan pun akan terdiri manusia-manusia yang mempunyai karakter. Dengan semakin banyaknya anak bangsa yang memiliki karakter positif, maka akan terbentuk bangsa yang berkarakter.

Kurikulum pendidikan karakter terpadu

Apapun resikonya, tidak ada jalan lain bagi bangsa ini untuk segera melakukan perubahan karakter. Bangsa ini seharusnya tidak pernah berhenti berupaya untuk meletakkan nilai baik buruk maupun benar salah secara kuat. Namun, sekali lagi, perlu diingat bahwa pendidikan dan pembangunan karakter yang menghabiskan energi dan materi tidak akan pernah berhasil tanpa sinergi dari lembaga keluarga, pendidikan dan lingkungan.

Sudah saatnya, bagi pihak-pihak yang terkait dengan pengembangan kurikulum pendidikan karakter untuk mengintegrasikannya dengan lembaga keluarga dan lingkungan. Tanpa sinergi dari ketiga lembaga itu, bangsa ini akan terus menuju kebangkrutan ekonomi dan pendangkalan moral. Seperti orang bijak mengatakan bahwa; “You lose your wealth, you lose nothing; You lose your health, you lose something; You lose your character, you lose everything”.

(Penulis adalah Pemerhati Pendidikan di Jakarta)

sumber : Kompas.com

Kategori:Pendidikan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: